Selasa, 30 Juni 2009

Ibunda Nike":Menyebar bau melati..."

Meriahnya acara peringatan 10 tahun meninggalnya Nike Ardilla, membuat Nining Siraj, ibunda Nike terharu. Ia tak membayangkan, acara ini akan dihadiri begitu banyak penggemar anak bungsunya. "Saya bersyukur, Nike masih dikenang sama anak-anak."

Meski sudah 10 tahun ditinggal putri kesayangannya, Nining merasa Nike masih ada. "Setiap mendengar mobil datang, saya selalu terbangun dan menyangka Nike pulang," jelas Nining yang selalu membuat pengajian sederhana di rumahnya malam sebelum hari meninggalnya Nike. "Di tengah pengajian itu suka tercium wangi parfum kesukaan Nike, melati," ungkap Nining yang sekarang hidup menjanda setelah sang suami, R. Eddy Kusnadi meninggal 25 Oktober 1997 lalu dan dimakamkan tepat disebelah makam Nike.

Meski tak ada selebritis yang datang di acara 10 tahun meninggalnya Nike, Nining tak kecewa. "Melly Goeslaw berhalangan hadir, Mel Shandy sedang ada show, sementara Nafa Urbach katanya sedang sakit," ungkapnya.

Fans Makasar akan gelar Bazaar

Takdir memang sangat mengidolakan Nike. Bahkan, rumah makan miliknya diberi nama Nike Ardilla. "Menunya juga dise suaikan dengan judul lagu Nike. Ada Ayam Panggang Nyalakan Api, Sate Ayam Seberkas Sinar dan Jus Jeruk Cinta Diantara Kita," cerita Takdir semangat.

Di rumah makan tersebut juga dipajang koleksi yang bergambar Nike. "Saya punya ratusan foto dan berbagai jenis pernak-pernik," ungkap pemuda yang juga merangkap sebagai ketua NAFC Makasar ini. "Anggotanya ada 700 orang, lo."

Bahkan Takdir juga punya rencana mengadakan bazar amal dan lomba karaoke di kotanya. "Keuntungannya akan disumbangkan ke Yayasan Nike Ardilla," ujar Takdir seraya menambahkan setiap hari kelahiran Nike selalu dirayakan meriah olah para Nikers, sebutan penggemar Nike dari Makassar. "Kami selalu menyiapkan kue tart. Lalu sama-sama menyanyikan lagu ulang tahun."







Tak terasa, 10 tahun sudah Nike Ardilla meninggal. Momen ini lantas dipakai sarana reuni para penggemarnya. Ratusan penggemar Nike pun tumplek blek di makam maupun museum penyanyi Bintang Kehidupan ini.

Sebenarnya, hampir tiap tahun, tepatnya saat tanggal kematian Nike Ardilla, selalu ada peringatan untuk mengenang Keukeu, panggilan Nike. Tapi kali ini berbeda. Maklum, ini peringatan satu dasa warsa. "Acara ini juga menjadi reuni Nike Ardila Fans Club (NAFC) se Indonesia. Tapi yang lebih penting, Nike Ardilla tetap akan dikenang," jelas Emma Amrin, ketua Nike Ardila Fans Club (NAFC) Jakarta yang menggagas ide acara ini.

Rencana tersebut lantas dimantangkan lewat rapat kecil bersama Alan Yudi (34) dan Deden Sonny (37) di museum Nike Ardila di Kompleks Arya Graha, Bandung. Kesepakatan pun dibuat. Pihak keluarga yang sebenarnya akan membuat doa bersama, menyerahkan kepada NAFC.

Emma menambahkan, ada sekitar 200 anggota NAFC Jakarta yang ikut ziarah. Rombongan tiga bus ini berangkat Jumat (19/3) tengah malam dan tiba di Bandung, Sabtu (19/3) subuh.
NAFC Tangerang dan Bandung. Sementara puluhan fans lain dari berbagai penjuru Indonesia juga bergabung dengan rombongan besar ini. Mereka berdoa bersama di pusara pujaannya.

Selain dari Jakarta, Bandung, dan Tangerang, juga ada fans Nike yang datang dari Makassar. Mereka adalah kakak beradik, Muhammad Takdir (27) dan Emil Husein (23). "Dari Makassar kami naik pesawat ke Surabaya, lalu disambung kereta ke Bandung," ungkap Takdir yang sudah dua kali mengujungi makam Nike.

Mengenang NA


Jenuh aku mendengar manisnya kata cinta
Lebih baik begini
Bukannya sekali seringku mencoba
Namun ku gagal lagi
Mungkin nasib ini suratan tangan MU
Harus tabah menjalani

Itulah cuplikan lagu dari album mendiang Nike Ardilla yang popular di awal tahun 90-an. Di saat karirnya sedang memuncak di usianya yang masih belia Nike harus pergi meninggalkan kita. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tak hanya bagi keluarganya yang ditinggalkan, para penggemarnya pun merasa sangat kehilangan Nike. �Semasa hidupnya neng Nike sangat peduli terhadap orang-orang miskin,� ujar seorang warga.

Dalam mengenang 10 tahun meninggalnya Nike Ardilla yang berlangsung di Imbanagara, Ciamis Sabtu (19/3) lebih dari 1.000 orang para fans turut hadir. Mereka datang dari berbagai daerah antara lain dari Jakarta, Bandung, Tangerang, Yogyakarta, Makassar dan kota-kota lainnya. �Alhamdulillah, walaupun anak saya sudah pergi, tapi kecintaan mereka masih besar,� tutur Hj. Nining saat ditemui di rumahnya.

Setiap harinya banyak para penggemar yang datang untuk zarah ke makam Nike terutama hari Minggu atau hari libur. Biasanya mereka yang mau atau baru pulang kampung, seperti dari daerah Cirebon Jogja mereka selalu mampir dulu ke makam Nike dan silaturahmi ke Mamih panggilan fans ke Hj. Nining yang juga ibunda Nike Ardilla.

Dewi yang tergabung dengan Nike Ardilla Fans Club (NAFC) Bandung saat diminta komentarnya mengatakan mengagumi Nike sejak duduk dibangku SMP. �Walau saya nggak kenal secara langsung dengan Nike, tapi kecintaan saya terhadap Nike sangat besar sampai-sampai kamar saya penuh dengan poster Nike Ardilla,� ungkapnya sambil tersenyum.

Melly Goeslaw lewat SMS-nya yang mengatakan, �Nike itu adalah sosok seorang sahabat yang menyenangkan murah hati dan tidak sombong. Dia juga sebagai anak yang tahu persisi bagaimana cara berterima kasih pada orang tua dan orang-orang yang mencintai. Dia juga sebagai artis yang punya bakat dan kemampuan yang jarang dimiliki artis lain. Kharismanya sangat besar karena hatinya penuh akal budi dan penuh kasih sayang.�

Selain para penggemar yang datang, hadir pula beberapa artis diantaranya Deddy Dores yang mengorbitkan Nike Ardilla, Nia Nathalia dan Tiara. Bahkan Deddy Dores sengaja menciptakan lagu untuk mengenang 10 tahun Nike Ardilla yang mana bulan depan lagu ini akan beredar. Judul lagu tersebut adalah Seandainya Kau Masih Ada

. �Lagu Nike selalu abadi di hati kita semua, biarlah lagu lagu nike menjadi lagunya Nike Ardilla sendiri dan itu akan menjadikan abadi. Kalaupun nanti saya mengorbitkan artis lain mungkin dengan warna yang lain bukan dengan warna Nike Ardilla,� ujar Deddy Dores di sela acara.

Banyak hal yang membuat fans Nike semakin mencintainya diantaranya dia itu punya jiwa sosial, dia itu cantik dan masih muda, suaranya lembut dan kalem dalam membawakan lagu. �Saya suka banget sama Nike dari segalanya, dimata saya dia itu sosok perempuan yang sangat sempurna.� Ujar Ema Amrin yang juga ketua NAFC Jakarta. Sementara itu ketua NAFC Bandung Ema Iteung mengatakan dirinya sempat histeris saat mendengar kematian artis pujaannya. Sejak kematiannya tanggal 19 Maret 1995 selama 40 hari dia selalu hadir di rumah Nike seolah-olah masih belum percaya atas kematiannya.

Dimata fans Nike adalah selebritis yang sangat-sangat sempurna dan hingga kini mereka tidak akan bisa mendapat lagi penggantinya. �Walaupun ada penyanyi yang mirip Nike, kesedihan saya tak kan bisa terobati.� Ujar salah seorang fans yang mengaku sengaja datang dari Makasar.

Selain itu hadir pula salah satu kelompok motor dari Ciamis yang menamakan Mio Ladies Club, dimana hampir semua pengendaranya perempuan.�Kami datang kesini karena kami salah satu penggemar Nike.� Ujar ketua MLC Irra Vienca

Nike memang meninggalkan nama yang harum dan sampai kini banyak orang mendapat rezeki dari Nike. Salah satunya Imran seorang pelukis asal Bandung. Dalam mengenang 10 tahun meninggalnya Nike dia membuat lukisan Nike Ardilla sebanyak 50 buah dan semua itu habis terjual hanya dalam waktu 3 hari, dengan harga rata-rata Rp. 75.000 per buah. �Lukisan saya yang paling banyak dipesan ya lukisannya Nike Ardilla,� katanya.

Warga sekitar makam pun ikut kebagian rezeki banyak di antaranya yang menjual kaos, foto-foto dan juga poster Nike Ardilla. Dan semuanya habis dibeli oleh fans-fansnya Nike. Untuk kaos dijual Rp. 50.000, foto dijual Rp. 15 ribu � Rp. 20 ribu dan untuk postersnya dijual 30 ribu rupiah. Tak heran jika para fans belanja sepuasnya, bahkan ada yang sampai mengabiskan uang Rp. 2,5 juta. �Semua ini demi cinta saya terhadap Nike,� ujar salah seorang fans warga Surabaya ini.

Kini Nike sudah pergi meninggalkan kita semua. Semoga Allah Swt mengampuni dosa-dosanya memberi tempat terbaik di sisi-Nya....Amien...

Peringatan kepergian NA


Sekitar 2.000 ribuan penggemar Nike Ardilla, Sabtu (19/3) kemarin yang bertepatan dengan sepuluh tahun meningalnya Nike, lebih dari 2.000 fans dari berbagai daerah tumplek di kediaman Ny. Nining di Imbanagara, Ciamis, orang tua Nike. Diantara mereka ada yang dari Palembang, Jambi, Jakarta, Bogor, Tangerang, Bandung, Cirebon, Makassar, Cilacap, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, hingga dari Madura.

Selain untuk doa bersama, para penggemar yang datang ke Ciamis ini juga ziarah ke makam Nike Ardilla di kompleks pemakaman keluarga daerah Cidudu, Imbanagara, Ciamis. Di depan makam ini, ribuan penggemar berdoa sekaligus mendengarkan siraman rohani dari H. Uun, tokoh agama setempat.

Prosesi acara peringatan kematian Nike (saat itu usia 19 tahun) ini dimulai di Bandung, Sabtu dini hari di lokasi kejadian. Acaranya, yaitu renungan yang dipimpin keluarga Nike dan panitia Nike Ardilla Fans Club (FANC). Setelah itu, para penggemar menuju ke Imbanagara, Ciamis tempat keluarga Nike berada.

Dari kediaman ini, sekira pukul 11.00 WIB, ribuan orang ini menuju ke makam untuk doa bersama. Sejumlah penggemar di makam ini tampak tak mampu untuk membendung air matanya. "Kalau sudah begini, saya sedih sekali, kenapa Nike dipanggil begitu cepat oleh Yang Kuasa," ungkap Ny. Ana asal Jakarta yang datang ke Ciamis bersama anaknya untuk ikut acara mengenang 10 tahun meninggalnya Nike.

Usai acara di makam, para NAFC ini kembali ke Kafe Nada, untuk acara doa bersama kembali, lalu tukar pengalaman di antara penggemar, dan hiburan mengenang almarhum. Hadir dalam kesempatan itu, artis Deddy Dores, Tiara, Lia Natalia, dan lainnya. Seperti Tiara, sempat menyanyikan lagunya Nike "Bintang Kehidupan" dan "Berkas Sinar". Saat lagu-lagu itu dilantunkan oleh para artis, para penggemar ikut bernyanyi bersama. Mereka benar-benar larut dalam lagu-lagu Nike yang sudah hafal di luar kepalanya.

Kendati Nike sudah pergi karena kecelakaan tunggal saat sedan Honda Genio D-27-AK menabrak pagar, setelah naik ke trotoar di Jln. RE Martadinata, Bandung, pada tanggal 19 Maret 1995 lalu, namun kharismanya tidak pernah padam. Di mata Nike Ardilla Fans Club (NAFC), penyanyi yang melejit lewat lagu "Bintang Kehidupan" itu, sosok pujuaan tak bisa tergantikan. Buktinya, ribuan fans-nya hadir dalam acara memperingati 10 tahun kepergiannya.

Ratusan Penggemar NA gelar Renungan




Nama penyanyi asal Bandung Nike Ardilla ternyata masih membekas dalam di banyak penggemarnya. Ratusan orang yang tergabung di Nike Ardilla Fans Club, menggelar renungan di lokasi kecelakaan Nike Ardilla mulai pukul 04:30 pagi.

Awal tahun 90-an publik musik Indonesia pasti tidak asing dengan wanita bernama Nike Ardilla. Muncul dengan dukungan Deddy Dorres popularitas perempuan yang bernama panjang Nike Ratnadilla itu langsung melesat bak roket. Semua kaset dan tembang yang dinyanyikannya laris manis di pasaran. Selain sukses di tarik suara, gadis berambut pendek itu juga pernah menunjukkan kepiawaiannya berakting di film "Nakalnya Anak Muda" bersama aktor Ryan Hidayat (alm).

Sayang di tengah kepopulerannya itu nyawa Nike harus terenggut oleh sebuah kejadian yang tragis. Sepulang dari diskotik Polo Bandung, mobil Genio yang dikendarai oleh Nike dengan kecepatan tinggi menabrak tembok beton di jalan R.E Martadinata.

Benturan keras tersebut merenggut nyawa Nike yang ketika itu masih masih berusia 19 tahun. Untuk memperingati 10 tahun perginya Nike Ardilla ratusan penggemar menggelar kilas balik dan doa bersama. Perjalanan ratusan penggemar Nike yang berasal dari Jakarta, Surabaya, dan Bandung itu dimulai dari museum Nike Ardilla yang terletak di jalan Soekarno Hatta. Museum yang sering dijadikan tempat berkumpul Nike Ardilla Fans Club (NAFC) itu menyimpan berbagai memorabilia Nike seperti baju-baju, album, foto, serta pintu mobil yang ketika itu dikendarai Nike pada saat kecelakaan.

"Kita sangat bangga akan segala prestasi dan bakat dari Nike Ardilla. Sampai sekarang kita masih menyimpang semua koleksi kaset dan berbagai barang-barang koleksi Nike Ardilla. Karena itu kita bikin acara peringatan ini," demikian Derin, salah satu panitia sekaligus penggemar berat Nike Ardilla.

Sekitar pukul 04:30 pagi rombongan yang menggunakan bus itu siap berangkat menuju lokasi kecelakaan Nike Ardilla yang terletak di jalan Riau (R.E Martadinata). Di tempat tersebut para penggemar melakukan renungan dan doa bersama.

Setelah menggelar renungan singkat, massa yang terdiri dari berbagai umur itu bergerak menuju Ciamis tempat bungsu dari 3 bersaudara tersebut dimakamkan. Disana digelar doa dan berbagai acara untuk memperingati kiprah dan kenangan pelantun tembang "Bintang Kehidupan" itu.

"Aku dulu koleksi semua klipingnya. Semua tabloid dan koran yang ada berita Nike pasti aku beli. Setelah dia Meninggal aku juga pernah berkunjung ke makamnya. Dulu hampir semua orang mengidolakan dia karena sifatnya yang ramah dan wajahnya yang cantik," ujar Tina dan Luki dua orang penggemar Nike Ardilla dari Jakarta yang tampak sangat antusias mengikuti acara.

Seberkas Sinar NA


Ia muda,serba bisa,penyantun,digemari.Takdir pun menyempurnakan sang "Bintang Kehidupan".Publik berduka.Kasetnya laku keras.

Kepergian Keke memang terasa menyentakan dan mengagetkan.Maklum,pengagum berat Marilyn Monroe itu meninggal saat ia berada di tengah perjalanan menuju puncak popularitas dan prestasi sebagai penyayi,model,dan bintang film-sinetron-iklan.

"Saya tak punya firasat apa apa.Tapi sehari sebelum kecelakaan,saya sudah mengingatkan Nike agar tidak membawa mobilnya ke Bandung,karena jalannya tidak stabil," ungkap Rani Noor,penyanyi dan salah seorang sahabat Nike,yang mengaku sempat memakai Honda Civic Genio berwarna biru metalik yang membawa nahas itu,sampai sabtu dini hari,sebelum akhirnya dibawa juga oleh Nike ke Bandung.

Lahir di Bandung,27 Desember 1975,anak bungsu pasangan Raden Eddy Kusnadi dan Ning Sirat itu diberi nama lengkap Raden Rara Nike Ratnadilla.
Ia memulai kariernya sejak berusia sembilan tahun,dan menjadi juara Harapan I lomba menyanyi tingkay Kota Madya Bandung.

Bakatnya mulai berkilat setelah Denny Sabri,yang dikenal sebagai penemu bakat baru,merekrutnya dalam trio "Denny's Angels" bersama Cut Irna dan Lady Avisha pada tahun 1987.Saat itu,Keke memakai nama panggung "Nike Astrina", yang merujuk pada nama Nicky Astria,penyayi Bandung yang ketika itu tengah meratui blantika music Rock.
Meski namanya belum berkibar,sutradara beken Slamet Rahardjo mengajak Keke bermain dalam Filmnya Kasmaran (1987)

Dua tahun kemudian,Keke melepas album solo perdananya,Seberkas Sinar,yang ditulis oleh Deddy Dores,sukses di pasaran.

Suara Keke yang pipih,mendayu,dan menghiba,rupanya klop benar dengan selera pasar."Padahal,terus terang saja...timbre vocal Nike yang sesungguhnya sangat dahsyat.Sayangnya,ia belum sempat memaksimalkan kelebihan itu pada lagu lagunya," kata Katon "KLA" Bagaskara.

Tahun 1990 agaknya merupakan tahun keemasan bagi penggemar warna cokelat dan hitam itu.Selain menelurkan hit Bintang Kehidupan dan terjual 400 ribu keping dan mengantarkan BASF Award pertama ke pangkuannya.Keke pun mulai melangkah ke dunia model.Paras manis dan sikap supel yang dimilikinya menyebabkan ia terpilih sebagai "Favorit Gadis Sampul 1990",versi majalah Gadis

Popularitas ternyata tak membuat kepekaan sosial Keke padam.Tahun itu juga,ia mendirikan Yayasan Pendidikan Wawasan Nusantara bagi anak anak cacat di Jalan Soekarno-Hatta,Bandung.Di yayasan yang kini menampung 80-an anak itu,Keke menjabat sebagai penyandang dana sekaligus Sekretaris Yayasan.
Media massa kemudian menetapkannya sebagai "Bintang 1990".
Untuk semua itu,ia harus mengorbankan sekolahnya.Jenjang SLA hanya dilaluinya selama satu semester,di SMA BPI I Bandung.

Tokh langkahnya di dunia seni kian tak terbendung.Setelah merebut BASF Awards kedua untuk album Nyalakan Api,dan penghargaan sebagai pendatang baru terbaik pada Asia Song Festival di Shanghai(1991).
Keke membuat sejumlah film bertema remaja,seperti Nakalnya Anak Muda,Gadis Foto Model,danOlga.Dunia sinetron juga dirambahnya.Antara lain ia bermain dalam Trauma Marissa dan Warisan

Namun,bak kata pepatah,"Semakin tinggi pohon,semakin kencang angin bertiup", begitulah kehidupan Keke akhir akhir ini.Berbagai suara sumbang menyangkut alkohol,obat terlarang,dan lesbianisme datang menerpanya silih berganti.

Tapi Keke,yang pernah bercita cita ingin maendirikan madrasah dan menunaikan ibadah umrah,tetap tegar."Saya ingin membuktikan bahwa saya masih bisa berkarya," katanya dengan mata berkaca kaca kepada GATRA,pada acara Anugrah HDX,Januari lalu.Ketika itu lagunya yang berjudul Biarkan Cintamu Berlalu berhasil meraih penghargaan Golden Cassette untuk penjualan diatas 250 ribu keping.

Kini.....sepekan setelah kepergiannya*sepekan zaman baheula*,penjualan kaset kasetnya yang terangkum dalam delapan album melonjak tajam!! Di negeri Jiran,malaysia,masyarakat di sana pun ikut berduka cita.Dan Kamis lalu *Kamis zaman Madangkara*,di sana,Nike mendapatkan penghargaan sebagai penyanyi asing terbaik kedua untuk lagunya,Duri Terlindung.Hetty Koes Endang dengan Hadirlah Kasih meraih predikat tertinggi.
Di malam pemberian anugrah yang penuh haru saat dipanjatkan doa bersama untuk Keke,kepada hadirin...Hetty Koes Endang menyatakan,"Kemenangan saya adalah kemenangan buat Nike". Selamat jalan,Keke

Allan&NAFC, kenang Nike.




Alan tercengang menyaksikan tingginya perhatian penggemar Nike Ardilla,meski penyanyi bersuara tinggi,serak,dan melengking ini sudah wafat 10 tahun silam.Malam tanggal 19 March 2005,menurut Alan yang tak lain adalah kaka kandung Nike,memang bertepatan 10 tahun mojang Bandung itu tutup usia.
tak mengherankan,jika makam Nike di Desa Imbanagara,30 km dari Ciamis,Jawa Barat dipadati org dari berbagai daerah.Mereka adalah anggota NIke Ardilla Fans Club yang ingin menyaksikan secara langsung peringatan itu.

Surat Yassin berkumandang disela sela isak tangis para penggemarnya.Acara tahlil di Pusara Nike adalah puncak dari peringatan 10 Tahun kematian Nike.

Bagi Alan,Nike adalah sosok adik yang baik.Alan mengaku pernah didatangi Nike di alam mimpi,3 tahun setelah Pelantun lagu lagu sendu itu wafat.Dalam mimpinya,Nike melarang Alan berenang terus di pantai."Entah kebetulan atau tidak,saya kemudian mendapat keturunan" kata lelaki berperawakan sedang ini mengenang.



ku rangkai doa.....mohon pada-Nya...semoga saja kau bahagia...lelap damai di sisi-Nya....

10 thn kepergian nike.


Ziarah, Renungan & Pengumpulan Dana


Tak terasa, sepuluh tahun sudah sejak kecelakaan mobil yang tragis merenggut nyawa Nike Ardilla, 19 Maret 1995 lalu. Saat itu, kepergian Nike yang begitu mendadak, mengejutkan semua orang, terutama keluarga dan fans fanatiknya. Maklum, selain amat belia (saat itu usianya belum genap 20 tahun, Red.), karir Lady Rocker sekaligus model dan bintang film ini kala itu sedang berada di puncak.

Namun apa mau dikata, umur memang rahasia Tuhan.


Tapi seperti yang disebutkan Majalah Asia Week dalam salah satu edisinya tentang Nike Ardilla, "In Dead She Soared". Ya, dalam kematiannya, Nike masih saja terus bersinar. Persis lagu Bintang Kehidupan yang melambungkan namanya. Buktinya, hingga 10 tahun berlalu, nama dan karya Nike masih saja di inget orang. Bahkan baru-baru ini suara Nike direkam kembali dalam sebuah album kompilasi keluaran Musica, yang didedikasikan untuk korban bencana tsunami di Aceh. **hebat uey!


Kini, dalam rangka memperingati 10 tahun kepergian Nike, kembali digelar acara Ziarah ke Makam Nike di Ciamis, sekaligus renungan di lokasi kecelakaan, JL.RE Martadinata, Bandung. Acara yang diprakarsai oleh Nike Ardilla Fans Club (NAFC) ini rencananya akan dilangsungkan persis pada tanggal dan jam yang sama, yaitu jam 06.00 pagi. "Setelah itu kami dan anggota NAFC akan ke museum Nike Ardilla juga. Selain anggota NAFC, kami juga mengundang beberapa artis yang dekat dengan almarhumah Nike, seperti Dik Doank, Melly Goeslow, Sylvana Herman, Nicky Astria, dan Ria Irawan" ujar Emma Amrin, ketua NAFC Jakarta, Selasa (1/3).

Lewat acara yang menurut Emma lebih mirip reunian anggota NAFC yang tersebar di seluruh Indonesia itu, diharapkan bisa terkumpul dana. "Dana itu akan kami berikan pada SLB Nike Ardilla. Belakangan ini SLB tersebut kurang mendapat perhatian dari pemerintah atau sponsor lain yang dulunya sering membantu," ungkap wanita berambut pendek ini sambil bercerita terus tentang bertambahnya anggota NAFC setiap tahunnya. "Memang enggak terlalu banyak. Tapi saya bangga sekali. Ada lo, anggota yang saat Nike meninggal dia masih SD. Belakangan ini dia baru jadi anggota fans."

Saat ini lanjut Emma, total anggota NAFC mencapai ribuan orang. "Semua berasal dari berbagai latar belakang, suku, agama, dan negara. Ada lo, yang asli Amerika, Malaysia, maupun negara lain. Di Jakarta sendiri paling tidak ada sekitar 500 orang anggotanya," ujar Emma yang mengaku sering mengadakan halal bihalal bertepatan dengan peringatan ulang tahun Nike, 27 Desember. dekat, bahkan sudah seperti saudara sendiri."

Hal ini di'amin'ni oleh Ny. Nining Ningsihrat, ibunda Nike. "Fans Nike sampai sekarang masih suka datang ke rumah. Dari luar pulau juga banyak, seperti Kalimantan, Sulawesi dan Sumatra. Kadang sampai menginap. Kemarin saja ada orang Jepang dan Malaysia yang datang," ujar Nining yang mengaku sangat terharu karena masih banyak yang ingat pada putrinya. "Ternyata banyak yang sayang sama Nike" ujarnya Nining yang mengaku SLB yang dulu didanai sang putri kini mulai kehilangan donatur.

Tentang rencana peringatan 10 tahun meninggalnya Nike, Nining mengaku sudah dikabari Emma sejak Desember 2004. "Kami sekeluarga setuju saja. Bahkan, rencana pengajian keluarga untuk Nike, akhirnya kami gabungkan dengan acara NAFC," ujar Nining yang masih merasa sedih setiap mengenang Nike. "Setiap mengadakan pengajian kecil untuk Nike, saya bahkan sering tercium wangi parfum kesukaannya. Wangi melati," ungkap Nining yang kini menjanda setelah ayah Nike, R.Eddy Kusnadi meninggal dunia 25 Oktober 1997. "Papinya sangat sayang sama Nike. Makanya makam mereka kami bikin sebelah-sebelahan". Edwin Yusman



Sumber : Star Blitz (Star Nova), No. 132/III. 3-9 Maret 2005

Music Plus

Buat yang pengen kasih masukan untuk album Nike di 10 tahun wafatnya ini. Yah..., kita kan bosen tuh ama album kompilasi Nike yang lagu nya itu-itu mulu', belon lagi cover nya yang asal-asalan.

Bisa telpon langsung ke MUSIC PLUS : (021) 6012700

Makanan kesukaan Nike





Pengen tau makanan kesukaan Nike Ardilla??



Selamat Mencoba!



Selamat Mencoba

Minggu, 28 Juni 2009

Nike haruz menipu diri


Menurut kepercayaan Tionghoa, penyayi muda yang memiliki aliran "slow rock" ini haruz dikwepangkan. Maksudnya diaku sebagai anak oleh tante atau neneknya. Ditengah itu, ia harus menjalani hidup dengan jalan menipu diri sendiri. Sejak kelahirannya, selalu mencul peristiwa yang membuat kecewa hatinya. Karena itulah ia harus menipu diri.

Contohnya, kalau ada orang yang bisa naik mobil, sementara ia hanya berjalan kaki, dia tidak boleh frustasi, dan harus berani membantah keingiannya sendiri. Misalnya dengan mengatakan "Enakan seperti saya, dengan tidak punya mobil maka saya tidak memiliki resiko menabrak dan membayar pajak." Kalau dia bisa berkata macam itu, berarti dia mampu menipu diri sendiri. Kalau dia mengikuti kata hatinya tapi tidak bisa memenuhinya, ia selalu merasa kecewa terus dan ini mengakibatkan selalu ada air mata.

Buat seorang wanita macam dia, harus hati-hati dengan masa remaja. Tidak boleh percaya dengan sembarang laki-laki yang mengatakan cinta kepadanya. Nomor satu kesuciannya

Tahun 1992, keadaan dirinya belum stabil. Karirnya masih dalam proses pertumbuhan. Ibarat roda, perputaran untuk sampai ke puncak, harus dilalui lewat berbagai proses.


Unsur: Kayu.
Kejayaan : Barat dan Utara.

puisi kita hari ini

kutunggu bintang kemarin malam
kiranya dia kan mau tunjukkan sinarnya yg terang
dan berbagi cerita dengannya lagi
namun semua hanya sia-sia


aku masih ingat saat aku coba menghitung bintang2 di langit
menunggu sinar terangnya di antara redup sang rembulan
dan ucapkan keinginanmu saat bintang jatuh itu menyapa hadirmu
dan malam ini tak seperti malam itu
semua sudah jauh berbeda
tinggal aku sendiri menghitung berapa banyak bintang yang tlah kita hitung dulu
ditemani kenangan lalu yg menghias memoriku
lalu kutanya pada hembusan bayu yg menemaniku
di penghujung tahun ini
akankah kulalui tanpa hadirmu lagi
dan aku harus meniup lilin seorang diri
pejamkan mata dan berdoa
"Tuhan......kabulkan semua permohonanku..."

Ulang Tayang SILET!

Yang pengen SILET NA di ulang tayang waktu tanggal 19 Maret kemaren, terutama bagi anak2 yang maren ini ngikut ziarah. Kita kan gak sempet nonton tuh..., pada sibuk mondar-mandir kan? bisa telpon ke INDIGO!.
Nomernya : (021) 75902151.

Semakin banyak permintaan.., tentunya semakin besar kemungkinan terwujud.

**thanks buat Lian atas informasi!
Oiya, gimana tuh poto? Mudah2-an ketemu deh.

berburu foto2 Nike!

Buat temen2 semua..., kalo kita nanti jadi ke Bandung, (kalo mau sih) jangan lupa pada beli foto Keke yuk!. Ntar bisa kita SCAN truz kita pajang deh di situz.., kita buru foto2 yang cakep2 (emang cakep semua kali)..., kalo per orang pada beli.. kan lumayan, buat nambah2 kolelleksi foto2 Nike kita di situz. Tul Gak?? :)


Sallam Manis :
Niker's mania.

Renungan 2

Dia penyanyi remaja asal Bandung. nama aslinya Rd.Rara Nike Ratnadila. di rumah dipanggil neneng. terkenal dengan nama Nike Ardila.

Tahun 90-an namanya meleset bagai meteor. lagu yang dinyanyikannya, bintang kehidupan, laku dimana-mana. konon terjual lebih 500 ribu copy.

Dia lalu merambah dunia film dan sinetron dan berhasil. Mass media pun lantas berujar: Sang bintang kehidupan benar-benar telah lahir.

Tak seorang jua menduga. kisah si neneng berujung tragis. di pagi subuh honda genio D 27 AK yang ditumpanginya menghujam keras tembok pagar rumah di pinggir jalan Martadinata.
Kabar duka meruyak ke seantero nusantara. Kerlip sang bintang kehidupan padam sudah. kematian sudah menjemputnya. justru diusia belia dan di puncak popularitasnya.

Begitulah, kematian tidak mengenal usia, waktu, jabatan atau apa pun. dia datang kapan saja dia mau datang, dan pergi kapan saja dia mau pergi. Karena itu tidak ada jalan lain: bersiaplah!

Melly Goeslow:"shock ditinggal Nike Ardilla"






Sudah 10 tahun ia berkarier dan Melly menandainya dengan peluncuran buku kumpulan cerpen serta film Tentang Dia. Dunia musik memang tak ada dalam bayangan Melly, meski bakatnya sudah terlihat sejak kecil. Ia lebih suka jadi pegawai bank. Belakangan, ibu dua anak ini pindah ke Jakarta dan tinggal bersama mendiang Nike Ardilla. "Dia sahabat sekaligus teman seperjuangan hidup di Jakarta." Tak heran jika Melly terus menangisi kerpegian Nike yang begitu mendadak. Berikut sepenggal perjalanan hidup dan karier Melly.

Awal 95 aku hijrah ke Jakarta, mengadu nasib. Aku pikir, daripada tidak kuliah dan luntang-lantung di Bandung, mending ke Jakarta. Selain itu, di Jakarta ada sahabatku, almarhumah Nike Ardila. Kebetulan rumah kami di Bandung bertetangga. Hubungan keluarga kami pun sangat dekat. Saking dekatnya, aku dikira salah satu putri mamanya Nike karena hidungku yang tidak terlalu mancung. Sebaliknya, Nike dikira orang anaknya Mama, karena bentuk hidungnya yang agak mancung.

Mama yang sudah mengenal Nike, memberi izin aku tinggal di Jakarta dan numpang di kontrakan Nike di Jalan Mangga, Pluit, Jakarta Utara. Nike waktu itu sudah jadi penyanyi tenar. Makanya aku jadi sering berkenalan dengan musisi kenamaan Jakarta, saat mengantar Nike nyanyi di berbagai tempat. Sampai akhirnya aku dapat tawaran nyanyi dari satu studio ke studio lainnya sebagai backing vokal. Sebut saja Godbless, Ita Purnamasari, dan Harvey Malaihollo dan dibayar Rp 1 juta. Sekitar Maret, aku diajak Katon Bagaskara menggantikan backing vokalnya yang berhalangan hadir. Ternyata, aku malah bertemu dengan additional player Katon, Anto Hoed Bersemi. Feelingku mengatakan, dia jodoh yang diberikan Tuhan. Setelah kenal dan pendekatan sekitar dua bulan, kami saling jatuh cinta.

Baru 2 bulan mengenal Anto, aku terpukul kehilangan Nike yang mengalami kecelakaan mobil sampai merenggut nyawanya. Aku benar-benar syok, tak menyangka bakal secepat itu kehilangan Nike. Aku ingat banget, dia punya kebiasaan suka mandi malam pakai air dingin. Bagiku, sosok Nike adalah sahabat yang posesif. Tapi aku sangat suka bergaul dengan Nike. Tiap kali aku kenalkan cowok padanya, Nike selalu bilang tak suka dan melarang aku bergaul dengan mereka. Saking posesifnya, pernah cowok yang aku taksir dia ikuti. Sampai akhirnya Nike berhasil menunjukkan bahwa lelaki itu tidak benar dan punya banyak pacar. Anehnya, ketika aku kenalkan Nike dengan Anto, dia enggak pernah melarangku pacaran dengannya. Hanya Anto yang enggak dia komentari. Justru, saat aku jalan dengan Anto, Nike yang selalu mengingatkan. "Udah telepon Anto, belum?" Pokoknya, Nike sangat perhatian dan setuju banget aku pacaran dengan Anto.

Malam sebelum dia meninggal, ada kejanggalan yang aku rasakan. Tanda-tanda ini, baru aku bisa baca setelah beberapa hari dia pergi. Malam itu, dia sempat kasih kabar lewat pager. Waktu itu, kan, belum bisa beli HP karena masih mahal. Nike cerita, mobilnya nabrak beberapa kali. Baik kesenggol tiang atau nabrak tembok. Saat itu, posisiku di Jakarta dan Nike di Bandung. Sebenarnya kami janjian sama-sama ke Bandung. Tiba-tiba, aku dapat pager yang meminta aku segera pulang ke Bandung. Mama tak sampai hati mengabarkan Nike telah meninggal dunia. Katanya, Nike kecelakaan lalu lintas. Setibanya di Bandung, aku baru dikabari. Wah, aku benar-benar syok. Antolah yang banyak membantu menyembuhkan luka batinku karena kehilangan Nike, sahabat sekaligus teman seperjuangan selama hidup di Jakarta.




sumber:Starnova

Selingan 2

Judul "Tidak?" pengarang Putu Wijaya pengantar Nirwan Dewanto isi 278 hal. penerbit Pabelan Jayakarta, 1999 Seperti biasa Putu selalu membuat kejutan. Namun kejutannya kali ini membuat para pembaca bertanya-tanya, siapakah yang hendak disergapnya sebagai pembaca?

Pertanyaan ini jelas mengusik karena dalam buku ini kelihatan sekali pengarang ingin merangkul masyarakat pembaca anak muda yang akrab dengan apa yang disebut novel populer. Pemilihan bahasa prokem yang lugas, masalah anak muda dan sosial yang menggelitik semuanya disajikan dengan baik ke dalam kumpulan cerpen terbaru Putu. Dengan santainya Putu mengangkat problem anak muda dan tokoh-tokoh cerpennya yang kemudian menjadi sosok karikatural. Misalnya dalam cerpen berjudul Nyokap, Tahun Baru atau Idola. Buku ini dibuka dengan cerpen Nike. Cerpen ini menceriatkan tentang seorang wartawan yang jemu karena popularitas almarhum penyanyi Nike Ardilla. Sang penyanyi terus menjadi berita tak ada habisnya, bahkan menjadi komoditi majalahnya sampai berita-berita lain terlupakan.

Suatu hari si wartawan berubah pikiran ketika jatuh cinta dengan gadis yang berwajah mirip Nike Ardilla. Dengan sekejab ia berusaha mengetengahkan sisi lain Nike sebagai laporan utama majalahnya. Cerita tak berhenti sampai di situ. Sampai pada suatu ketika ia disogok majalah lain dengan cek sebesar 5 juta untuk membeberkan cerita tersembunyi tentang Nike. Sebuah awal yang baik, sekaligus langsung �tancap saja� dan kemudian berlanjut dengan kejutan-kejutan lugas dan lancar.�teror� yang yang pernah dikatakannya dalam setiap cerpen yang dibuatnya (baca pengantar Gres, kumpulan cerpen Putu Wijaya terbitan balai Pustaka, 1982) terasa benar dalam cerpen ini.
Hal ini terus berlanjut dalam cerpen selanjutnya seperti Superstar, Idola, Kartini dengan �K� kecil, Kebenaran, Munafik, Cerita Pendek bukan hanya Cerita Pendek dan Horor. Seperti biasanya pembuatan cerita Putu cenderung �tancap saja� dan berjalan lancar tanpa struktur yang jelas. Hampir semua ide-ide cerita Putu bermuara dari spontanitas bukan kepada susunan metafor-metafor yang berat, tinggi bahkan njelimet. Spontanitas berlebihan tanpa kendali Putu ini membuat hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin sehingga cerita yang dibuatnya menjadi seru.

Keunikan Putu kali ini banyak mengemas cerpen-cerpennya dengan pendekatan populer (yang disebut-sebut penikmat sastra serius �picisan�). Inilah salah satu kekuatannya yang tanpa bermaksud meuji benar-benar menggebrak. Pemaparan gaya populer penuh dengan kekonyolan-kekonyolan yang akhirnya dapat dimaklumi seperti misalnya kita memaklumi kekonyolan yang terjadi dalam film Indiana Jones, atau tokoh utama The Mask. Biar konyol tetapi pada akhirnya kita memaklumi sampai cerita tersebut selsai di depan mata kita. Sayangnya kekuatan Putu rada melorot terutama dalam cerpen Nyokap, Tahun Baru dan Surat untuk Valentino. Cerpen-cerpen tersebut pemilihan ending dan temanya mengalir tanpa greget, bahkan tanpa kekuatan �teror� seperti biasa yang dibuatnya. Akan tetapi secara keseluruhan buku kumpulan cerpen ini masih menunjukkan kekuatannya sebagai cerpenis piawai.



sumber: ada deh

Selingan 1






Ariel vokalis Peterpan mendadak menikah dengan Sarah Amelia,seorang pemuja sang bintang.Dan dari panggung musik Indonesia yang tengah bangkit,orang tak lagi berbicara tentang fans yang memburu tanda tangan atau mengoleksi produk rekaman.Orang berbicara tentang groupies,fans yang mengambil jalan nekad dengan cara menguntit,meniru,bahkan masuk ke dalam kehidupan paling pribadi pujaannya.
Groupies sudah sekian tingkat lebih ekstrem ketimbang sekadar menjadi fans.Tren baru ini sudah hadir di tengah kita,walau pun aksi mereka masih sulit dibedakan dengan fans.

Kita pasti mengenal Nike Ardilla,penyanyi pop idola remaja yang tewas dalam kecalakaan mobil pada tahun 1995.Sudah sepuluh tahun ia wafat,tapi setiap hari ada saja pemujanya yang berziarah ke makamnya di desa Imbanagara,30 kilometer dari Ciamis,Jawa Barat.
Nike Adilla Fans Club menggaji (yg bener?) seorang juru kunci khusus untuk menjaga makam penyanyi yang tenar di tahun 1990 an itu.Mang Adung,juru kunci yang berusia 54 tahun itu bercerita bahwa kefanatikan fans tak aus oleh waktu."Ada penggemar yang sampai tak mau pulang.Seorang calon ibu pernah berdoa mengharapkan anak yang dikandungnya seperti Nike."Cerita Mang Adung.




Menjadi Fans,kata David Allyn,PhD,psikolog,seksolog,dan penulis buku "Make Love Not War","adalah sebentuk komitmen atau kontak bathin terhadap sebuah kesenangan."Dengan komitmen personalnya,seorang penggemar bisa saja meniru habis dandanan Nike Ardilla dan mencocok cocokan suaranya.
Seorang Slanker misalnya,dipastikan akan memilih dan mengenakan kaus ketat dan menguruskan badan agar mirip dengan Bimbim,penngebuk drum group itu.Begitu juga dengan penggemar artis artis lainnya.

Berbagai merchandise diborong.Kaset,VCD,CD,dan DVD dikoleksi.Setiap ucapan dan naihat dari sang idola selalu diingat dan diikuti.
Fenomena fans berkembang.Ada yang memburu pujaan mereka kemana pun mereka pergi,bahkan menawarkan seks kepada idolanya (gila!!mau donk jd idola!!).Mereka inilah yang di INggris dan Amerika dikenal sebagai groupies."wabah"itu menjalar ke Indonesia.Sejumlah penyanyi dan personel group band mengaku pernah diajak menikah oleh penggemarnya.

Sebutan fans atau groupies tak terlalu penting bagi Mang Adung,juru kunci makam Almarhumah Nike Ardilla tadi.Yang penting baginya,makam itu harus bersih setiap hari,bunga melati tersedia cukup,dan dia mendapat uang sedekah dari fans atau groupies atau apa pun yang pantas untuk para pemuja itu.

Sekilas info lagi





Hei...Niker's! Minggu depan beli tabloid Nova ya... terbit hari senin. Di sana akan ada all about Nike Ardilla mulai dari perjalanan karir, hidup, rencana ziarah 10 thn dan ttg penggemar2nya. Kemaren wawancaranya di rumah mba Emma Jkt kebetulan lagi ada mami Nike di sana. Di star7 tv7 juga mungkin akan ditayang hari sabtu.



Sumber: EKY
Thanx's telpon nya yah! Baru mau di post, udah ngisi dibuku tamu :), Btw besok2 jangan nelpon dari telpon koin napaaaa... . Suaranya kecil banget... **buka kartu


Buat temen2x laennya yang punya info apa aja tentang Nike,
email/tlp/sms aja gue yah. Jangan malu-malu....meong
(pasti bakal dimuat!)

rocker juga manusia :))







Nike ArdiLa :

SAYA MAH BUKAN ROCKER

**artikel dibawah ini adalah semasa Nike masih hidup.





"Nike memang bukan penyanyi rock. Nggak tau ya kenapa orang nganggep Nike itu lady rocker. Padahal suara Nike kan nggak pas buat lagu rock! . Begitu sanggahnya ringan, seringan kunyah-an permen karet yang sejak tadi memenuhi mulutnya yang mungil itu.

Nike adalah profil remaja masa kini yang punya kesempatan bagus dalam urusan tarik suara. Berbekal bakat, kemampuan, tampang yang menarik dan kemauan keras. Akhirnya Nike mendapatkan apa yang jadi buah mimpi semasa kecilnya

"Kapan sih Nike mulai menyanyi?"
Nike tersentak sesaat. Maklum dia baru saja "menyimak" tampang cowok yang mirip Tom Cruise yang tiba-tiba nyelonong tepat di sudut pandangnya.

"E,e..., apa? Ooh... wah Nike mah udah suka nyanyi dari kecil," ujarnya dengan cengkok Sunda yang kental. Ingatannya lantas melayang ke beberapa tahun lalu, ketika dia baru saja tiga tahun menghirup udara dunia. Dari sinilah perjalanan "karir" nya dimulai.

Pagi itu, ayam belum lagi berkokok ketika Nike kecil terbangun dari tidurnya Sesaat tubuhnya berkeliat dan punggung tangannya mengucek kedua kelopak matanya yang belum melek benar. Lantas dia turun dari pembaringan dan menghampiri sang Ayah yang masih terlelap.

"Pih.., Papih bangun donk! Fotoin Nike...," rengeknya berkali-kali sambil mengguncang tubuh Ayahnya sampai terbangun.

Dengan mata yang masih berat sang ayah terpaksa meladeni permintaan anaknya .
Lantas diambilnya kamera yang selalu siap pakai itu dan dia coba mematut matut buah hatinya di depan lensa. "jepret! Jepre!"

Nike kecil kelihatan riang dengan berbagai pose karangannya. Dia merasa tidak ubahnya foto model yang sering dia lihat di majalah ibunya. Dicobanya lagi berbagai pose yang lain. Sang Ayah, Eddy Kusnadi yang karyawan PJKA itu pun meluluskan semua permintaan anaknya yang lagi lucu-lucunya itu.

Tidak terasa pagi mulai merambat. Sang anak yang tahu akan jadwal ayahnya yang harus pergi ke kantor kini ganti mencari perhatian lainnya. Dia minta dinaikkan ke atas meja dan mulai lah berdendang dengan lantang. Seisi rumah yang terbangun disuruhnya jadi penonton. Pagi pun jadi meriah.

Begitulah, hampir setiap pagi "jadwal" tetap ini harus ada. Sebelum sang ayah ke kantor, dia harus mau jadi juru potret. Dan seisi rumah harus siap jadi penonton penyanyi cilik yang belum mandi itu. "Waktu itu Nike pengen sekali jadi peragawati, penyanyi, pramugari dan dokter" kenang Nike.

Ternyata, sepuluh tahun kemudian impian itu jadi kenyataan. Beberapa impiannya kini terwujud sudah, jadi penyanyi, foto model malah sekarang lagi giat-giatnya main film. Namanya lantas banyak disebut orang. Kehadirannya sangat ditunggu. Bahkan, tidak sedikit yang jadi korban gara-gara orang ingin melihatnya beraksi di atas panggung. Nike Ardilla.., nama itu kian jadi buah bibir.

Semua itu dia capai lewat tangga yang tidak saja panjang tetapi juga curam *kami belum sempat menghitung anak tangganya . Betapa tidak, sejak kecil dia ditempa lewat disiplin yang ketat dalam latihan, lomba atau cuma buat manggung di acara 17-an di lingkungan rumahnya. Dan sekarang dia harus berhadapan dengan para pedagang seni yang tidak sedikit yang hanya ingin mencari keuntungan dari dia.


TAMBANG EMAS
Bakat ibarat pisau. Kalau pisau banyak di asah makin tajamlah dia. Begitupun bakat. Waktu kedua orang tua Nike tahu akan bakat terpendam anak perempuannnya ini, mereka sengaja mencarikan seorang pelatih. "Nike latihan sama Om Deddy Kantong di rumah pake' gitar gembrung (akustik)," ungkap Nike. Dia pun berani ikut lomba. Sejak kelas 5 SD, dia sudah merasakan serunya diadu dengan teman sebayanya dalam berbagai festival "pop singer" di Bandung. Bahkan, dia pun sempat diadu di tingkat nasional dalam ajang "Lagu Pilihanku". Bagusnya, Nike selalu mendapat nomor di arena lomba ini. Puncaknya, tahun 1987 dia jadi juara I golongan Teruna Festiva Musik Tiga Warna di Bandung.

Urusan centil-centil an yang paling dia suka sejak kecil pun tidak dia tinggalkan. Dia ikut berbagai kontes kemolekan tampang. Hasilnya memang tidak mengecewakan. Dua tahun lalu dia dinobatkan jadi "Puteri LA", nama sebuah diskotek anak muda Bandung. Lalu, tahun ini pun dia jadi favorit pembaca waktu majalah Gadis bikin ajang Gadis Sampul. "Pokoknya Nike pernah ngerasain jadi foto model lah" ujar Nike. Permen karet yang sejak tadi dia kunyah, dibuangnya ke tong sampah. **udah pait kali ya . Kini, keripik kentang jadi sasaran. "Nike memang paling suka ngemil!"


Para pemandu bakat agaknya mencium tambang emas dalam diri Nike. Setelah mencoba rekaman dalam Bandung Rock Power tahun 1986 (*ada yang punya albumnya gak??), Nike diajak main film "Kasmaran" arahan sutradara Slamet Rahardjo. Di film ini dia bermain dengan Ida Iasha yang saat itu mulai dikenal orang. "Eh Nike ditawarin lagi ikut film "Gadis Foto Model" yah.. ikut lagi deh! ujar pembaca setia serial komik Donal Bebek ini.

Yang membawanya ke tangga puncak dunia tarik suara ialah saat Nike bikin album Seberkas Sinar. Album ini membuat nama Nike berkibar seantero Nusantara. Kasetnya laris manis tanjung timpul. Eh Nike pun menyabet bonus, Super Kijang. "Wah ..., Nike pake' jalan-jalan tiap hari. Sekarang sih Kijangnya udah dijual, abis tabrakan sama kakak Nike sih". **kayak tanda2 gitu yah..

Genjotan kedua setelah di seling main film "Ricky, Nakalnya Anak Muda" bareng Ryan Hidayat ialah album Bintang Kehidupan. Nah, ini dia yang membuatnya mantap di jajaran artis peringkat "atas" di negeri kita. Dia sabet "BASF AWARD" dan keliling Eropa hampir sebulan. Sejak album pertama dulu sampai sekarang, panggilan manggung di berbagai kota setiap minggunya tidak pernah sepi. Ini artinya sama dengan rejeki nomplok. "Honornya dikasih ke Papih, sedikit disisihin buat Nike. Paling sebulan 100 ribu. Papih nggak mau ngasih gede-gede, soalnya Nike boro$ sih" ungkapnya. "Tabungan Nike sekarang paling ada cuma 1 juta!"

Umur se-Nike sekarang memang boleh dibilang belum bisa memegang duit. Bayangkan kalau semua honornya dipegang sendiri, bisa-bisa itu duit cuma numpang lewat. Apalagi geng Nike di sekolahnya sekarang tukang jajan. "Nike suka ngajak makan temen-temen atau ke disko diantar kakak Nike yang cowok," **kak Allan ya??

Dengan segala kesibukannya ini tidak mustahil sekolahnya ikut terganggu. Dia yang sekarang punya cita-cita jadi pengusaha ini tidak jarang harus meninggalkan bangku sekolahnya yang baru beberapa bulan saja dia duduki. Bayangkan, selain urusan manggung yang dia sendiri tentukan tarifnya , juga urusan shooting film yang makan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Maka, yang repot adalah sang Ayah. Dia harus bolak-balik minta ijin kepada sekolah. "Kalau ada ulangan Nike biasanya minta susulan saja. Terus belajarnya sama temen," katanya ringan, seiring ayun langkahnya di penghujung sore yang amat dingin itu. Tubuh yang berbalut jeans lusuh dan sweater penahan tebal itu lantas menghilang diantara antrian menuju pabean bandara Nice.

Jalan Nike masih panjang. Diatas sana banyak awan yang menghadang. Bahkan, mungkin tidak sedikit petir yang siap menghanguskan nya. Tinggal Nike yang harus siaga. Siapkah dia?? **hiks..hiks.. , kenyataannya Nike nggak siap


Artikel sumbangan dari : Melfa Riza, Bukittinggi.
(0812 678 11xx), mhel_moy@yahoo.com

Catatanya Ndu Nana :
Di panggung dia tampak garang, biarpun bersuara tipis. Di cover kasetnya dia kelihatan kenes dan sedikit sexy. Lalu orang bilang "Ini dia satu lagi rocker cewek kita!" Padahal...
"Ah Nike mah bukan rocker a tuh..!"
Lalu mengapa Nike nggak mau dibilang rocker?? Padahal seperti dikutip dari lirik lagu milik Seriouz Band... "rocker juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati..."





//bukan kusesali keadaan, namun kenyataan...//