Rabu, 01 Juli 2009

RuMaH NiKe ARdilla (RNA)












Ia
tidak
menuntut
kesendirian,
sama sekali tak ada
kecenderungan untuk membentuk
citra eksklusif.Setidaknya,itulah yang tertangkap awam.
Namnun siapa sangka kalau dibalik keceriaannya ia menyimpan
jeritan,seperti yang biasa kita dengar lewat lagu-lagunya yang dinyayikannya dari hati.




Suatu hari,awal Mei 1991,Nike Ardilla mengehentikan Honda Grand Civic yang dikemudikannya di salah satu ruas jalan Soekarno-Hatta,Bandung.
"Saya mau telpon teman dulu ya," katanya seraya merogoh beberapa uang logam cepekan,dan ikutan antre di telpon umum....
Sekitar lima menit kemudian Keke,begitu Nike biasa dipanggil,meletakan gagang telepon umum,dan kembali menstarter kendaraannya untuk meneruskan acara kami mengitari Bandung yang terik.

Orang-orang yang tadi menunggu giliran,memandangnya dengan cuek,sampai kami menghilang.Tak ada eksfresi khusus di wajah mereka.Biasa saja.Mereka barangkali tak menduga kalau cewek yang barusan berlalu adalah sosok yang kelak bakal digandrungi remaja kita.
Ya.Mungkin memang tak banyak yang tahu kalau dia calon penting dalam wajah musik Pop (rock) Indonesia.Ia bukan cuma hadir dan sukses di blantika nusik,tetapi juga film,sinetron,dan iklan.

Berbeda dengan jazz,dunia musik pop agaknya seringkali diwarnai peristiwa ajaib yang kerap berada di luar jangkauan akal sehat.Seorang artis yang dianggap remeh,bisa saja melejit.Sementara artis potensial,karena alasan tertentu bisa saja malah tenggelam.Itu nggak cuma di Indonesia lho.Contohnya adalah Dolores O'Riarden yang ambil bagian dalam konser Woodstock'94.Penyanyi The Cranberries tersebut muncul dihadapan
ribuan penonton yang tidak begitu antusias menyambutnya.Siapa sangka di belakang hari lagu Zombie-nya berkumandang dimana-mana?

Musik pop Indonesia itu unik.Ia menuntut kondisi khusus untuk kurun waktu tertentu.Kondisi yang bisa menjadi medium untuk memenuhi fantasi sebagian remaja kita tentang romantisme.Dan Keke datang membawa jawaban.Dengan suara yang melengking tipis,ia bercerita tentang hati yang patah,kerinduan,jeritan,dan idiom-idiom sentimentil lainnya.Secara visual hal itu terwakili oleh kedua bola matanya yang sendu,seakan selalu
butuh perlindungan dan kasih sayang.

Tanpa faktor pendukung tersebut,Keke mungkin hampir tak bisa dibedakan dengan penyanyi pop lainnya.
Maka,kita seolah sepakat untuk mengakui bahwa,ditangan Keke,kerapuhan cinta bisa menjadi energi yang sanggup menyedot simpati.Kematian Keke,dengan begitu menjadi� kesedihan massal.
Penggemarnya tak cukup hanya memutar ulang lagu-lagunya sebagai upaya mengenang,tetapi lebih jauh dari itu.
Mereka juga menabur bunga di makam dan tempat terjadi kecelakaan tragis itu.Bila perlu,sampai menitikkan air mata,atau mengumpulkan serpihan kaca mobilnya.


Lalu apa arti popularitas itu sendiri?
Banyak jawaban bisa didapat.Ihwal Keke,nampak menikmatinya secara wajar,tanpa beban.Artinya,tidak lantas menuntut hal-hal yang di luar logika awam,seperti kebanyakan dialami para mega bintang lainnya.
Ia tidak menuntut kesendirian,sama sekali tak ada kecenderungan membentuk citra eksklusif.Setidaknya itulah yang tertangkap awam.
Namun siapa sangka kalau di balik keceriaannya ia menyimpan jeritan,seperti yang biasa kita dengar lewat lagu-lagunya.
" I have a big problem," katanya kepada Denny Sabri,pemandu bakat dari Bandung.Problem apa?
Tak banyak yang tahu.Dan rasanya tak akan banyak yang tahu.Sampai kemudian berita tragis itu merenggut kesadaran.
Ah,dunia ini memang panggung sandiwara.....

Penyanyi pop rock asal Bandung ini pusing menjelang labaran tahun ini (taong sembilan lima),padahal Senin pekan lalu (senin nya juga taon 95) ia baru pulang dari Hong Kong untuk refreshing dan sekalian belanja lebaran.Apa yang dipusingkan penyanyi ayu ini? Ternyata,ia direpotkan dengan pertanyaan penggemarnya seputar kabar yang menyebut ia bakal dilamar anak seorang gubernur.Memang santer digosipkan bahwa Nike itu lengket dengan Andra Ardans,anak dari gubernur Kalimantan Timur.

"Saya memang sudah kenal dia sejak tiga tahun lalu.Tapi kalau dikabarkan saya mau nikah,itu tidak benar.Saya masih kepingin bebas,"tegasnya.Nike masih ingin konsentrasi pada kariernya.Selain tengah menggarap album barunya,dara berwajah melankolis yang aktif membantu sekolah luar biasa ini juga disibukan syuting dua sinetron sekaligus : None dan Ceplas-Ceplos.

Ada lagi kabar tentang Nike menjelang lebaran ini (masih taon 95).Nama Nike dicatut oleh kontes Lady Rocker Garut Terbuka pada awal Februari lalu (tentunya....taon 95 juga).Panitia menjanjikan piala Nike Ardilla,tapi Nike sendiri tak dihubungi.Ketika pemenangnya muncul,piala pun tak ada.Nike sendiri sih tidak apa-apa.Namun pemenang kontes itu kasihan betul.

Lalu,kemana saja kalau Nike berlebaran?"Biasanya Nike dan keluarga berlebaran di rumah nenek Nike di Ciamis.Di sana semua keluarga besar Nike berkumpul...pokoknya rame deh," ujarnya menutup obrolan.

Tepat pada hari ulang tahun Nike Ardilla yang ke 21,diresmikan sebuah rumah kenangan atau lebih dikenal dengan museum Nike Ardilla.Sebuah rumah berisikan segala benda dan koleksi pribadi milik almarhumah.Rumah Nike Ardilla (RNA),terletak di atas lahan seluas 250 meter di Jl.By Pass Soekarno-Hatta.Tepatnya di Komplek Aria Graha,jalan Aria Utama no 1,Desa Cipamokolan,Kecamatan Rancas-Bandung Jawa Barat.Luas bangunannya adalah 500 M2 (dua lantai).

RNA diresmikan sendiri oleh ayah Nike,R.Eddy Kusnaedi,ditandai dengan pemotongan kue ulang tahun oleh Eddy yang kemudian diserahkan kepada Lia Nathalia selaku ketua umum Nike Ardilla Fans Club.Hadir pula dalam acara sederhana itu teman-teman seprofesi Nike,diantaranya Lucy Dahlia,Ellysa,dan artis-artis lainnya.

Dituturkan Eddy,berdirinya RNA tak lepas dari keinginan fans Nike,"Banyak lho yang minta didirikan rumah kenangan ini.Baik lewat surat,telepon,atau pun datang langsung.Kami rasa permintaan ini wajar dan kami berusaha mewujudkannya," ujar Eddy.Karena itulah,Eddy tak menganggap sebagai proyek aneh-aneh."Hanya membuat kenangan akan diri Nike buat kami sekeluarga dan penggemarnya,itu saja,"lanjutnya.

Meski rumah kenangan artis semacam ini baru pertama kali ada di Indonesia,Eddy menyatakan tak bermaksud menganggap Nike sebagai artis terbesar,apalagi menyejajarkan Nike dengan artis-artis legenda Indonesia lainnya,semisal Bing Slamet atau Benjamin S."Sejak semula,itu sudah kami pikirkan.Karena itu,kami sekeluarga akhirnya sepakat.RNA bukan hanya berhubungan dengan barang-barang milik Nike saja,artinya RNA juga diarahkan jadi semacam House of fame-nya Indonesia.

Biaya pembangunan RNA mencapai 300 juta,"Boleh dibilang dananya swadaya keluarga kami sendiri,"jelas Eddy.Asal tahu,RNA didirikan bukan di rumah keluarga Eddy yang dulu."Tanah dan rumah itu sudah dibeli oleh perusahaan estate karena di sekiratnya dibikin perumahan.Kebetulan,pihak pengelola mengizinkan kami mendirikan di area perumahan.Kompensasinya kami membeli tanah dan rumah di kawasan tersebut seharga 250 juta dipotong hasil penjualan tanah dan rumah sebelumnya,"papar Eddy.

Eddy juga membantah kabar bahwa keluarganya menjual barang koleksi pribadi Nike pada umum."Tidak benar demikian,kami hanya mengeluarkan arloji,jacket,dan mobil Honda Genio yang dilelang itu.Selebihnya tidak kami jual untuk umum,"tegas Eddy.

Proses tersulit pembangunan RNA adalah merancang ulang interior kamar Nike."Kami berusaha menyusunnya kembali sesuai interior aslinya,"kata Allan,kakak kandung Nike yang menangani pendesainan kamar tiruan Nike.Untuk itu lanjutnya,"Kami sudah memfoto secara rinci tiap sudut kamar Nike sebelum dirubuhkan.Foto itulah yang kami pakai sebagai sumber penataan ulang kamar Nike.Seluruhnya sekitar makan waktu dua bulan."

Masih cerita Allan,konsep dasar RNA merupakan perpaduan desain ala Planet Hollywood,Hard Rock Cafe,dan museum pada umumnya,"Dengan demikian interior tidak berkesan formal atau "seram" tapi lebih ngepop,"ungkapnya.Ruang pamer dan "kamar" Nike ada di lantai dua,isinya antara lain ada koleksi baju show,aksesori,foto,sepatu,dan pernak-pernik yang berkaitan atau dimiliki Nike,hingga pintu mobil Nike yang rusak karena kecelakaan.Tak ketinggalan pula aneka pesan dan kesan dari penggemar Nike dari berbagai penjuru di tanah air.Adapun lantai satu dipergunakan untuk tempat tinggal keluarga Nike (kini hanya ditempati Kang Alan dan keluarga).

Puluhan bahkan ratusan benda koleksi pribadi ditinggalkan Nike Ardilla,dari busana show,sepatu,aksesori,hingga kumpulan boneka dan aneka benda bergambar Marilyn Monroe.Kecuali busana yang di museumkan,keluarga Nike belum memastikan,apakah benda-benda tersebut akan tetap mereka simpan.

Selain menyisakan berjuta kenangan manis bagi keluarga dan penggemarnya,kepergian Nike Ardilla juga meninggalkan banyak barang yang dimilikinya.Selain meninggalkan mobil kesayangan (Honda Genio),Nike juga meninggalkan berbagai barang berharga lainnya,seperti koleksi baju,aksesori,dan lain-lain."Kalau perhiasan emas mah,si Neng gak punya.Paling-paling cuma aksesori untuk show,"tutur Ny.Nining,ibu Nike.Busana untuk pentas pun,lanjutnya,"Kebanyakan dibeliin sama produsernya.Si Neng sendiri lebih suka pake celana jeans dan kaos oblong."

Kendati begitu,jumlah koleksinya sangat banyak.Untuk busana saja ada tiga lemari.Belum lagi sepatu,yang mencapai puluhan pasang."Habis setiap pergi.Neng selalu membeli baju dan sepatu.Apa saja yang dia lihat,kalau suka ya dibeli saja,"kenang Ny.Nining.Namun,lanjutnya,"Neng jarang pergi ke butik.Apalagi pesan sama perancang.Sekalinya dia pesan sama perancang,waktu umur 17 tahun.Tapi setelah itu nggak pernah lagi."

Sebagai artis terkenal dengan penghasilan besar,Nike boleh dibilang amata sederhana dalam berbusana.Pernah dulu,kisah Ny.Nining."Ketika show di daerah,Neng pakai baju yang harganya cuma lima ribu rupiah,dia ngak malu lho." Selain itu,dari seluruh koleksi busana Nike,nyaris tak ada bermerk yang terkenal. "Untuk show,Neng lebih suka pakai jaket dan celana kulit hitam.Dia baru pakai gaun untuk show di luar negeri.Warnanya pun bisa dipastikan ada hitamnya,"kenang Ny.Nining kembali.

Keluarga Nike juga belum tahu pasti,hendak diapakan koleksi benda-benda pribadi milik Nike. "Yang jelas kami tidak akan melelangnya.Banyak juga fans yang berniat membelinya.Tapi kami kok nggak tega.Bagi kami itu pamali," kata Allan,kakaknya Nike.Sementara busana-busana yang digunakan saat show,kini telah dipajang di RNA atau yang beken disebut museumnya Nike Ardilla.

Kesederhanaan Nike juga terungkap dari meja riasnya.Di situ,tak satupun ada kosmetik bermerk beken."Kalau pergi,Nike cuma pake bedak bayi.Kalau pun show,biasanya kan sudah ada orang yang meriasnya.Satu-satunya kosmetik yang mahal cuma sebuah bedak keluaran luar negeri," ungkap Yanti,sekretaris SLB Wawasan Nusantara yang setia pula mendampingi keluarga Nike.

Koleksi Nike yang paling banyak adalah miniatur tokoh kartun Donald Bebek dan Sleeping Beauty.Jumlahnya ada sekitar 70 buah.Sebagian disimpan di koper,sisanya ditaruh di lemari tamu. "Nike juga dulu rajin mengkoleksi mobil kecil-kecil.Tapi lama-lama habis.Mungkin karena setiap ada teman yang datang,dia berikan,"ujar kakak Nike yang lain,Deden.

Boneka pertama yang dimiliki Nike adalah singa kecil berwarna cokelat, "Ini hadiah dari anak walikota Medan,saat Nike manggung di sana,"Jelas Nining.Sejak itu,sambung Deden, "Nike mulai senang koleksi boneka.Salah satunya boneka buaya dari Andra." Menurut Nining,semula Andra mau menghadiahi boneka gajah setinggi satu meter,"Tapi saya keberatan,karena tempatnya nggak cukup.Akhirnya dikasihlah buaya ini."

Dengan beberapa boneka inilah,kata Nining,Nike sering bercanda dan ngobrol. "Kalau ada anak kecil main ke kamarnya,sering dia takut-takutin dengan sandal berbentuk boneka ini.Ah,Nike memang lucu." Kenang Nining sembari tersenyum.

Nike juga rajin mengkoleksi dasi,topi,topeng,boneka,jam dinding,pigura,sampai buku tentang Marilyn Monroe. "Saya sering mengantarnya putar-putar mencari barang yang ada Marilyn-nya," kata Dewi,sahabat Nike.Koleksi Nike yang cukup lengkap ini memang cukup mencengangkan banyak orang, "Bayangkan,cangkir saja dikumpulin.Kalau saya mah nggak kepikiran tuh," timpal Yanti sepupunya Nike.

(gambar'y nyangkut di atas semua ya....)

Tidak ada komentar: