Minggu, 28 Juni 2009

Nike Ardilla Kenangan Televisi



Sinetron Warisan II di RCTI yang dibintangi almarhumah, Nike Ardilla memasuki episode ke-4 Selasa (28/3) nanti. Di TPI, Nike masih mempunyai None yang disutradarai Putu Wijaya. Di SCTV, sinetronnya Trauma Marissa baru rampung sekitar 75 persen. Ini sama halnya dengan almarhum pelawak Bagyo, yang ketika meninggal tahun 1993 masih menyisakan paket lawak di TPI, serta 'siaran Pedesaan 'di TVRI bersama Niniek Candra.

Memang bukan hal baru, apalagi sebetulnya, kalau mau ditarik lebih kebelakang, pernah ada bintang yang sangat populer di televisi TVRI, yakni Marlia Hardi dan Ratmi B-29, yang meninggal dunia pada saat puncak popularitas. Seorang penyanyi, sehabis rekaman di TVRI terbunuh pada perampokan di Jl. Cikini dan meninggalkan nomor Walk Away untuk stasiun itu. Belum lama, di TPI, seorang bintang tamu Benyamin Show meninggal sebelum paket tersebut ditayangkan.

Adakah etika tertulis tentang bagaimana seharusnya nasib sebuah tayangan jika pendukung nya telah meninggal? Jika ternyata tidak tertulis, bagaimana sikap stasiun penyiaran berdasarkan pengalaman selama ini? Lantas, apabila sebuah paket rekaman belum tuntas diproduksi, bagaimana pihak produksi menyiasati paket selanjutnya? Beberapa pertanyaan tersebut menarik diajukan kepada para pengelola televisi, termasuk seorang ahli televisi yang tak asing lagi.

Ahli pertelevisian Ishadi Iskak akan mengemukakan, tak pernah melihat etika tertulis atau semacam kode etik mengenai hal ini. Kalau ia mengatakan bahwa setiap tayangan mesti diberi pengantar. Itu atas dasar rasa etis dan melihat kebiasaan di negara-negara lalu. "Tayangan menyangkut artis yang sudah meninggal merupakan komoditi menarik, tapi harus ada pengantar semacam in memoriam untuk setiap tayangan itu" kata Ishadi, yang sehari-hari Kepala Penelitian dan Pengembangan Departemen Penerangan.

Pengantar tersebut tak cukup hanya muncul sekali menjelang sebuah paket acara, karena tak boleh diandaikan setiap pemirsa televisi menyaksikan pada paket sebelumnya. "Di Surabaya kami sedang memproduksi tayangan in memoriam itu sekitar 30 detik sampai 1 menit," kata Budi Darmawan dari humas SCTV, tentang tayangan yang direncanakan untuk pengantar Trauma Marissa.

Masih soal rasa etis, selain pemberian pengantar in memoriam perlu pula pendekatan kepada keluarga almarhum. " Ada izin atau tidak dari keluarga almarhum, sebetulnya tidak mengikat. Tapi pihak stasiun penyiaran harus memperhatikan hal itu, terutama menghormati masa berkabung sampai sekitar 2 minggu setelah artis meninggal," kata Pramudiono. Kepala Bidang Siaran TVRI Pusat Jakarta. Ini berdasarkan pengalaman TVRI termasuk dengan almarhum pelawak Bagyo.

Tak heran kalau pihak TPI langsung, berkunjung ke ke keluarga Nike Ardilla di Bandung, untuk mengejar pemutaran None episode ketiga hari Selasa (21/3). Yakni dua hari setelah Nike meninggal. Tim SCTV baru Jum'at (24/3) petang tiba di Jakarta dari Bandung, untuk izin penayangan Trauma Marissa.

Sama dengan yang diungkapkan istri almarhumah Bagyo, itu pula yang diperoleh Budi Darmawan dan Endah Hari Utari, Kepala Bidang Program TPI, dari keluarga Nike. Pihak keluarga artis tidak keberatan karena menilai seorang artis tidak cuma milik keluarganya, tetapi milik masyarakat.

Anita W Naryadi dari Humas RCTI sependapat dengan pengelola televise lain, bahwa tayangan musik, sinetron, dan sejenisnya, tidak mengusik rasa berkabung pihak keluarga maupun masyarakat. Justru tayangan tersebut, katanya, bisa membangkitkan simpati banyak orang kepada artis yang pernah mereka puja. Tapi, kata Anita, pihak RCTI cenderung bersikap akan menghapuskan tayangan iklan permen penyegar yang dibintangi Nike (Pagoda Pastilles).

"Iklan (yang dibintangi orang yang sudah meninggal), sebaiknya memang tidak usah ditayangkan lagi. Karena berbeda dengan tayangan lain yang malah memelihara kontak batin, iklan langsung mengeksploitir bintang yang sudah meninggal," kata Ishadi.

****


MASIH ada satu soal lagi, yakni, jika seorang artis meninggal sebelum rampung rekaman seluruh paket. None sebanyak 39 episode sudah selesai, dan ditayangkan ulang sejak 7 Maret 1995 lalu. Warisan II sebanyak (dalam rencana) 13 episode yang digarap Darto Joned sudah rampung sepanjang yang menyangkut kehadiran Nike Ardilla. Pada Warisan II bintang tersebut memang cuma muncul pada episode terakhir. Keduanya tak ada problem.

Bagaimana dengan Trauma Marissa? Endah Hari Utari dari TPI belum bisa menjawab, bagaimana kemampuan kru di Indonesia dalam spontanitas untuk mengubah skenario,jika seorang artis meninggal di tengah jalan.

Namun, dikabarkan, pihak Leo Jade Film yang memproduksiTrauma Marissa memang mengubah skenario. Menurut rencana, di episode terakhir tokoh yang dimainkan Nike akan kawin dengan tokoh yang dimainkan Cok Simbara. Ini akan diganti dengan peristiwa tabrakan yang betul-betul menimpa Nike.

Menurut catatan Kompas, pertelevisian Amerika Serikat telah terbiasa dengan hal begini, termasuk opera sabun Dallas yang pernah menjadi tayangan paling digemari disana. Ketika serial ini sedang dalam masa penayangan, salah satu tokoh utamanya, yaki pemeran utama Jock Ewing meninggal dunia karena sakit. Padahal dalam skenario asli, Jock masih harus tampil terus. Sutradara dengar cepat berinisiatif mengubah jalan cerita agar tayangan tidak terasa janggal.

Cerita hasil rekayasa yang cepat dari penulis skenario, sutradara, dan seluruh awak produksi justru menambah menarik tayangan. Jika sebelumnya, tak pernah dikisahkan konflik politik di Amerika Latin yang pengaruhnya sangat terasa bagi ketersediaan bahan baker di AS, dengan pengubahan cerita pemirsa mendapat informasi tentang hal tersebut. Kematian pemeran Jock, memberi inspirasi baru. Jock dikisahkan pergi ke sebuah negara di Amerika Latin untuk menyelamatkan ladang minyaknya yang akan dirasionalisasi karena terjadi perubahan kekuasaan di negeri itu. Dalam penerbangan kembali ke Dallas, pesawatnya hilang.

****
LAIN lagi yang dilakukan sutradara opera sabun yang ditayangkan RCTI setiap malam, Another World. Salah seorang pemerannya aktor bertubuh pendek, yang berperan sbg Sam sahabat Felicia, meninggal dunia karena serangan jantung. Padahal, tayangan sedang berlangsung dan tokoh ini tak bias digantikan aktor lain karena penampilan fisiknya yang khas, dan tak mungkin dihilangkan begitu saja.

Kematian sang aktor dikisahkan, begitu juga penyebabnya, sama seperti kenyataan yang ada. Bahkan dibuat satu episode khusus yang mengisahkan bagaimana seluruh tokoh-tokoh yang ada dalam opera sabun itu, yang dikisahkan mengenai tokoh Sam, mengenangnya.

Tidak ada komentar: